WARTA-ONE, JEBUS, BANGKA BARAT – Di tengah sengitnya perdebatan dan silat lidah elit mengenai polemik pertambangan di Dusun Kampak, Desa Jebus, Kecamatan Jebus, terdapat jeritan realitas yang jauh lebih konkret dari warga lokal. Bagi masyarakat yang saban hari bergelut dengan himpitan ekonomi, dinamika pertambangan rakyat bukan sekadar urusan izin atau angka produksi. Ini adalah urusan piring nasi di meja makan, keberlangsungan sekolah anak-anak, hingga impian melihat masjid dan mushola kampung mereka berdiri megah.
Ketika kondisi ekonomi daerah sedang serba sulit, keberadaan aktivitas ekonomi berbasis rakyat di Kampak terbukti menjadi katup penyelamat bagi perputaran uang di tingkat tapak.
Napas Perekonomian Warga Miskin dan Roda Usaha Kecil
Bagi warga kecil yang tidak memiliki banyak opsi mata pencaharian, tambang rakyat menjadi tumpuan utama untuk bertahan hidup. Dampak berganda (multiplier effect) dari aktivitas ini merembes langsung ke warung-warung kelontong, pedagang makanan, hingga penyedia jasa lokal.
“Kalau ramai, warung juga ramai. Ada yang membeli makanan, kopi, dan kebutuhan lainnya. Kami yang berjualan tentu merasakan manfaatnya,” ungkap Meli, salah seorang warga pedagang di Dusun Kampak.
Uang dari hasil keringat di tambang itulah yang kemudian digunakan para orang tua untuk membayar biaya pendidikan anak-anak mereka agar tidak putus sekolah, memenuhi nutrisi harian keluarga, serta menjaga daya beli masyarakat di tengah badai krisis ekonomi.
Gotong Royong Membangun Tempat Ibadah: Sentuhan Nyata Hasil Tambang
Tak hanya menggerakkan dapur warga, keberadaan aktivitas ekonomi ini dirasakan langsung oleh fasilitas sosial dan keagamaan di Dusun Kampak. Tempat ibadah seperti mushola dan masjid dusun yang kondisinya memprihatinkan dan sangat membutuhkan alokasi dana perbaikan menjadi fokus perhatian utama warga agar dapat segera dipugar demi kenyamanan beribadah.
“Kami berharap mushola ini bisa diperbaiki. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan digunakan masyarakat untuk beribadah. Kami ingin kampung ini lebih baik. Masjid dan mushola diperhatikan, fasilitas masyarakat diperbaiki, dan kehidupan warga berjalan,” tegas Tokoh Masyarakat Dusun Kampak, Haji Amat.
Senada dengan Haji Amat, Rudi (tokoh masyarakat Kampak) mengingatkan agar narasi pemberitaan dan kebijakan pemerintah tidak menutup mata terhadap kontribusi nyata pertambangan rakyat bagi pembangunan kampung.
“Jangan sampai perdebatan sengit di tingkat atas justru mengabaikan kebutuhan sosial masyarakat yang sifatnya sangat mendesak,” ucap Rudi
Menolak Ditinggalkan: Warga Bersuara Mengakomodasi Kepentingan Kampung
Masyarakat Kampak menegaskan agar mereka tidak sekadar dijadikan objek atau penonton dalam pusaran kebijakan pertambangan. Warga berharap pemerintah hadir untuk memfasilitasi tata kelola pertambangan rakyat yang transparan, aman, dan berpihak pada kesejahteraan warga lokal, bukan malah menutup mata terhadap nasib rakyat kecil.
Bagi warga Dusun Kampak, perbincangan tentang masa depan tambang harus berorientasi pada kemajuan kampung: bagaimana hasil bumi daerahnya benar-benar kembali untuk memajukan pendidikan anak-anak, memperbaiki rumah ibadah, dan mengangkat derajat ekonomi masyarakat dari kemiskinan. (*)







Komentar